Topik yang tidak pernah basi. Selalu dan selalu akan terjadi di dunia ini. Ya, selingkuh ini.
Malam ini, membaca ‘Norwegian Wood’-Haruki Murakami saya mendengarkan CD Album baru Krisdayanti. Saya tersentak saat mendengarkan lagu “Kaum Hawa”. Lagu ini menceritakan si penyanyi sebagai perempuan lain, yang merebut kekasih perempuan lainnya. Dia, si perempuan yang menceritakan kisahnya lewat lagu ini, merasa dia pantas bahagia dengan laki-laki itu. Tetapi, ia sadar bahwa ia menyakiti kaumnya, sesama perempuan. Saya jadi teringat dengan kisah saya sendiri yang terkubur jauh di kenangan saya…
Saat itu saya masih kuliah tingkat akhir. Sedang menyusun skripsi, sambil main-main (tetapi lebih banyak mainnya sih). Saya kenal dengan seorang laki-laki. Ia cerdas, bekerja di salah satu perusahaan besar dan terkenal, lulusan salah satu institut paling bergengsi di Indonesia, a few years older that I was. Perempuan manapun akan terbuai. One things lead to another.
Entah bagaimana caranya saya mengetahui kalau dia telah beristri. Wuah, saya kaget. Teramat sangat. Saya meminta untuk berbicara mengenai ini. Dialog seru terjadi. Saya, sebagai perempuan lain dan dia laki-laki yang mencari perempuan lain.
No, affair is not so me at all. Saya berkata padanya, saya tidak bisa meneruskan ini. Dia memberikan argumentasi bahwa ini semua hanya main-main. Tak sampai tidur bersama.
Tidak, tolak saya. Affairs perhaps will last 2 or 3 years, but the consequences will last a life time.
Ya lalu kenapa? Tanyanya. We have fun together.
Tidak. Aku menghargai diriku sebagai perempuan dan sebagai perempuan aku menghargai istrimu. Coba apa rasanya bila aku berada di posisi sebagai istrimu? Akan amat sangat pedih ketika mengetahui suami yang kucintai mengkhianati. Duuuh, ga kebayang.
Dialog itu terjadi hingga berpuluh menit. Dan diakhiri saya meninggalkannya.
Beberapa teman, dengan bercanda, berkata kenapa saya tidak meneruskan affair itu saja. Kan bisa minta apapun, dari pulsa telp selular –maklumlah saat itu masih berstatus mahasiswa yang bergantung pada uang saku, minta dibelikan ini dan itu, tanpa susah-susah.
Hah! It’s not so me. Betapa murahnya! Selama hidup saya, saya tak akan melukai perasaan perempuan lain dengan merebut kekasih atau suaminya.
Kini, saya berpikir, ada apa dengan laki-laki jaman sekarang? Mengapa mereka mencari sampingan? Adakah satu istri/ atau satu kekasih tidak cukup bagi mereka? Apalagi baru-baru lalu, poligami marak. Dua bulan lalu,saat diikut sertakan dalam Kajian Islam Kantor di kawasan sejuk saya sempat mendebat seorang penceramah saat dia membawakan topik poligami. Saya berargumen bahwa sebelum memutuskan ‘ok, dia akan saya jadikan istri kedua saya’, pasti ada tahap-tahap selingkuh juga. Apakah ini benar dalam agama? Mana ada laki-laki jaman sekarang sesuci Rasulullah dan setulus Sang UtusanNya itu? Bahkan seorang Dai kondang saja tidak bisa menahan hasrat hatinya melihat kemulusan dan kebeningan seorang perempuan lain. Walaupun dengan dalih menolong janda, but please… kalau jandanya ga bening kaya gitu, saya percaya deh.
Aah sudahlah, kok saya jadi meneracau begini? Mending saya teruskan membaca buku kedua yang sudah saya siapkan untuk weekend ini, The Black Book –Orhan Pamuk. Entah ide apa lagi yang akan muncul di benak saya setelah membaca buku ini? Hmmm, enaknya sambil mendengarkan CD Michael Buble yang baru saya beli…
Sunday, August 19, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment