Sunday, January 6, 2008

Reminiscing 2007

Beberapa jam lagi Bumi bagian barat akan memasuki tahun 2008. Mungkin saat saya menuliskan blog ini, di salah satu kota di New Zealand sana sudah memasuki tahun 2008.
Sungguh, waktu berlalu begitu cepat.
Saya memulai tahun 2007 ini di Moskow. Bergabung bersama ribuan orang Moskow dan orang dari kota-kota terdekat Moskow untuk menunggu pergantian tahun. Lapangan Merah saat itu dipenuhi oleh orang. Tua dan muda. Walaupun suhu di bawah nol, tidak mengurangi semangat orang untuk menyambut tahun baru di Lapangan lagendaris itu. Dengan mengenakan winter outfit lengkap, saya dan teman-teman Indonesia ikut larut dalam gegap-gempita Krasnaja Ploshad’. Ketika jarum jam di Kreml menunjukan pukul 12 tengah malam, sorak sorai membahana. Seruan ‘S Novym Godom!’ diteriakan kepada semua orang, pelukan, irama letupan botol champagne, vodka, atau kaleng soda (ya anak-anak kan ga mungkin minum liquor)berbaur dengan letupan fireworks dan siraman kembang-kembang api itu berlomba dengan salju tipis turun ke bumi. Aaah, pengalaman tak terlupakan. Indah…
Pulang ke republik ini, saya ‘disambut’ dengan masalah a la sinetron Indonesia yang dangdut abeeyz (whoops, bukan meledek dangdut). Seorang laki-laki yang mengaku dan merasa innocent bak angel menuduh saya melakukan hal-hal aneh. Padahal, dia sendirilah yang berbuat, dan dia melimpahkan kegagalannya itu ke saya. Tipuannya sudah tak mempan lagi kepada beberapa perempuan. Sayalah si pembuat onar; perusak kebahagiaannya, begitu menurutnya. Padahal apa yang saya lakukan bukan seperti itu. Saya hanya penasaran, berapa banyak perempuan yang jadi korbannya. Dan kebetulan, entah kenapa, dengan mudah saya menemukan korban-korbannya. Dan voila…terbukalah kotak Pandora. Dia mengamuk. Para perempuan itu sadar; walaupun sebenarnya saya yakin mereka bisa put two and two together dan selama ini mencurigainya.
Masalah sinetron ini berlanjut hingga Ramadhan lalu. Padahal saat itu saya sudah hendak melupakan semuanya. Saya meminta maaf jikalau ada tindakan saya yang salah (walaupun semua orang bilang untuk apa meminta maaf. Toh dia yang salah). Tetapi dia tidak mau memaafkan. Ya sudahlah…saya harus berjalan terus. Walaupun jujur saja, saya sakit hati dan marah dituduh yang bukan-bukan. Dan lucunya, sebelumnya kami pernah bertemu dan membahas ini dengan tertawa-tawa dan akrab. Saya anggap masalah ini selesai. Ternyata tidak di pikirannya yang masih kanak-kanak dan jiwanya yang sakit.
Tahun ini, 2007, saya lebih banyak belajar, termasuk belajar memaafkan dan lebih sabar. Kehilangan handphone dan sejumlah uang termasuk pengalaman yang tak terlupakan. Kejadian di bulan Oktober ini membuat saya lebih waspada dan tidak mempercayai orang dengan mudah.
Di bulan November, saya mendapatkan berita mengenai masa depan saya. Senang, deg-degan, dan waaah…saya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
2008 tinggal beberapa jam lagi. Hujan deras di luar sana seperti isyarat untuk mejadikan masa lalu sebagai pelajaran. Bukan hal yang harus dibuang dan dibenci.
Selamat tahun baru 2008 semua…semoga apa yang kalian tuliskan dalam resolusi 2008 dapat terwujud.

0 comments: